Tips Makeup guna Pengguna Lensa Kontak yang Mengurangi Risiko Iritasi

Tips Makeup guna Pengguna Lensa Kontak yang Mengurangi Risiko Iritasi – Pernahkah anda mengalami rasa tidak nyaman dampak adanya partikel produk makeup yang masuk ke dalam mata? Hal buruk yang satu ini ternyata bakal lebih parah lagi dirasakan oleh semua pemakai lensa kontak. Penggunaan makeup memang lumayan menjadi dilema untuk sebagian besar perempuan yang memakai lensa kontak. Pasalnya, unsur mata dapat jadi iritasi andai tidak dilaksanakan dengan teknik yang benar. Belum lagi, situasi mata yang gampang berair pun dapat mengakibatkan makeup di lokasi mata lebih cepat luntur. Jika tak hendak hal ini terjadi, jajaki simak tips makeup inilah ini!

Selalu Utamakan Kebersihan

Jari, makeup tools, produk makeup, sampai lensa kontak, adalahhal-hal yang perlu anda jaga kebersihannya untuk menghindari terjadinya iritasi mata. Baik dari debu maupun saldo produk skin care, pastikan jari tangan anda bersih sebelum mengaplikasikan lensa kontak, ya! Tak melulu itu, kamu pun perlu memerhatikan kesucian produk makeup dan kuas yang digunakan. Terakhir, pastikan pula anda menjaga kesucian lensa kontak dengan baik dan menyimpannya di lokasi yang terbebas dari debu.

Hindari Produk yang Bersifat Oil-Based

Produk makeup yang mempunyai sifat oil-based usahakan dihindari oleh pemakai lensa kontak. Minyak dalam makeup bertekstur krim seringkali cenderung licin, sehingga bisa jadi luntur dan masuk ke dalam mata pun lumayan besar. Sebenarnya, kandungan minyak dalam kosmetik ingin aman. Akan tetapi, andai terkena lensa kontak, penglihatan anda tentu saja bakal menjadi buram dan terganggu.

Pilih Maskara dan Eyeliner yang Tidak Flaky

Maskara dan eyeliner adalahdua produk yang mempunyai kontak terdekat dengan mata. Maka itu, pastikan untuk paling berhati-hati dalam memilih kedua jenis produk ini, ya! Bagi maskara, pilihlah yang tidak memiliki rumus clumpy atau yang mempunyai kandungan fiber. Dua jenis maskara tersebut gampang rontok, masuk ke dalam mata, dan berisiko terjebak di bawah lensa kontak kamu. Serupa dengan maskara, terdapat juga sejumlah jenis eyeliner yang gampang terkelupas ketika terhapus. Nah, serpihan eyeliner ini ternyata pun berisiko masuk ke dalam mata serta membuatnya iritasi.

Gunakan Makeup Brush Berkualitas

Dalam memilih makeup brush, terutama yang dipakai pada lokasi mata, tentu anda perlu selektif. Pertama, kuas mesti mempunyai tekstur bulu yang paling lembut guna menangkal gesekan berlebih pada kulit. Selanjutnya, pilih kuas dengan bulu yang tidak mudah rontok. Ini pun penting sebab bulu kuas yang rontok bisa terjebak di bawah lensa kontak dan mengakibatkan infeksi. Jangan lupa pun untuk rutin mencuci makeup brush kamu, ya!

Ketahui Urutan Memakai dan Melepas Lensa Kontak

Dengan tahu kapan ketika yang tepat untuk menggunakan dan melepas lensa kontak dapat membuat anda terhindar dari risiko iritasi. Bagi pemakaian, gunakanlah lensa kontak sebelum anda menggunakan makeup. Hal ini bertujuan untuk menangkal partikel kecil dari makeup terjebak di bawah lensa kontak kamu. Risiko iritasi dan infeksi pun bisa lebih dihindari. Sedangkan guna melepaskannya, terdapat baiknya anda melepas lensa kontak terlebih dahulu sebelum menghapus makeup. Makeup remover yang masuk ke mata berisiko mengontaminasi lensa kontak. Di samping itu, gosokan pada lokasi mata juga dapat menyebabkan lensa kontak merasakan kerusakan.

Baca di bahasainggris.co.id/

Rahasia BJ Habibie Bisa Raih S3 di Usia 30 Tahun

Rahasia BJ Habibie Bisa Raih S3 di Usia 30 Tahun – Mantan Presiden Indonesia ketiga, Profesor BJ Habibie turut menghadiri diskusi Dewan Riset Nasional (DRN) yang dilangsungkan di Gedung Graha Widya Bhakti, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Setu, Tangerang Selatan (Tangsel).

Dalam paparannya, BJ Habibie menekankan, alangkah pentingnya penambahan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) guna menilai masa mendatang bangsa. Menopang itu, kata dia, butuh ada keseriusan dalam meningkatkan jumlah perkiraan bagi riset-riset yang dilakukan. Sehingga, SDM Indonesia tidak tertinggal.

“Saya hendak menyampaikan, masa mendatang bangsa ini tergantung dari SDM-nya. Dulu saya pernah berfikir, bagaimana saya dapat unggul (cerdas) bila anggarannya (riset) terbatas. Tidak dapat berkembang, makanya saya pergi ke Jerman, menyerap teknologi di sana,” jelasnya.

Habibie sempat bercerita, bagaimana tekad kerasnya guna belajar teknologi menciptakan dia sukses menuntaskan gelar S3 pada umur 30 tahun. Lalu melanjutkan bekerja pada perusahaan penerbangan di Jerman. Menurutnya, semua tersebut di lakukan supaya saat pulang ke Tanah Air dapat menyerahkan kontribusi untuk bangsa dan negara dalam urusan teknologi.

“Saya tamat S3 tahun 1964. Saya pernah diminta oleh Presiden Soekarno memperjuangkan mengenai aturan menjadi Presiden seumur hidup, namun saya menolak, bukan sebab saya memandangnya lawan politik, tapi sebab tekad saya ketika itu ialah bagaimana mengisi kebebasan dengan bidang (Iptek) yang saya kuasai,” imbuhnya.

Dalam diskusi tentang riset nasional itu, turut muncul Menristekdikti Mohamad Nasir, Sekretaris Jenderal (Sesjen) Dewan Ketahanan Nasional (Wantanas) Letjen TNI Doni Monardo, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot Sulistio Wisnusubroto, dan Ketua DRN Bambang Setiadi.

Suasana Hangat Pertemuan Anwar Ibrahim dengan BJ Habibie di Jakarta

Kemenristekdikti sebagai Kementerian bersangkutan sudah mendorong supaya riset, ilmu pengetahuan, dan teknologi tak berhenti pada produk Invensi saja, tetapi harus pula berujung pada produk Inovasi. Dengan begitu, peneliti dapat mendapatkan hasil penelitian yang diinginkan, di sisi lain keterampilan industri guna berkembang pun semakin tersingkap lebar.

“Total ongkos riset tahun 2017 menjangkau Rp24,9 triliun, ternyata melulu menghasilkan penelitian senilai Rp10,9 triliun, sebab berbasisnya bukan pada output yang jelas. Dulu riset tersebut tidak masuk dalam konsep barang dan jasa, namun setelah terbit Peraturan Menteri Keuangan Nomor 106 2017, maka riset tidak lagi dipersulit oleh pertimbangan keuangan,” ungkap Mohamad Nasir, Menristekdikti.

Dikatakan Nasir, pemerintah sudah menyiapkan sekian banyak regulasi untuk menyokong penguatan dan percepatan pengembangan Iptek dan Inovasi. Salah satu regulasi yang sudah dibuat ialah aturan yang mengubah kegiatan riset dari ‘Activity Base’ menjadi ‘Output Base’.

“Cara pandang pengelolaan penelitian sebagai ‘Activity Base’ menciptakan pertanggungjawaban administrasi lebih rumit dibanding risetnya tersebut sendiri,” pungkasnya.

Baca di sekolahan.co.id/

Sistem Pemerintahan Menurut UUD 1945

Sistem Pemerintahan Menurut UUD 1945

Sistem Pemerintahan Menurut UUD 1945

Sistem Pemerintahan Menurut UUD 1945
Sistem Pemerintahan Menurut UUD 1945

 

  • Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rchstaat). Negara berdasarkan hukum tidak berdasarkan kekuasaan belaka (Machstaat)
  • Sistem Konstitusional. Negara berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas)
  • Kekuasaan tertinggi di tangan Majelis Permusyawaratan Rakyat, lembaga ini merupakan penjelasan dari rakyat. Sebagai penjelmaan dari rakyat maka tugas lembaga ini mengangkat Presiden dan wakil Presiden. Namun setelah amandemen UUD 1945 Presiden dan wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat, Majelis Permusyawaratan Rakyat hanyat berwenang melantik dan menetapkan GBHN sebagai landasan untuk pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahannya.
  • Presiden sebagai penyelenggara negara tertinggi di bawah Majelis  dalam menjalankan roda pemerintahan negara, Presiden bertanggung jawab pada Majlis Permusyawaratan Rakyat.
  • Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat, di samping Presiden adalah Dewan Perwakilan Rakyat. Untuk membentuk Undang-Undang Presiden harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (Gexetgebung) dan untuk menetapkan Anggaran Pendapatan  Belanja Negara (Saatbegroting), oleh karena itu kedudukan Presiden tidak tergantung ada Dewan Perwakilan Rakyat.
  • Menteri Negara adalah pembantu Presiden, menteri-menteri negara tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri negara.
  • Kekuasaan kepala negara tidak tak terbatas, walaupun kepala negara tidak bertanggungjawab pada Dewan Perwakilan Rakyat namun kekuasaanya tidak absolut, tapi dibatasi oleh Undang-Undang Dasar.
  • Kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat adalah kuat. Dewan ini tidak dapat dibubarkan oleh Presiden (beda dengan sistem Parlementer). Di samping itu Dewan Perwakilan Rakyat merangkap sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat ditambah dengan Anggota-anggota Dewan Presiden Daerah. Dewan dapat mengontrol tindakan Presiden, apabila Presiden melanggar Undang-Undang maupun GBHN maka Dewan Perwakilan Rakyat dapat mengusulkan sidang untuk meminta pertanggung jawaban Presiden atas dugaan pelanggaran Undang-Undang dalam pemerintahannya.
  • Menteri-menteri negara bukan pegawai tinggi biasa. Sebagai pemimpin departemen menteri mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan bidangnya masing-masing, menteri inilah yang menetapkan politik pemerintahan perlu adanya koordinasi diantara para menteri sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan baik.

 

Sumber : https://www.ayoksinau.com/

Strategi Transformasi Digital Melalui Pengolahan Data

Strategi Transformasi Digital Melalui Pengolahan Data

Microsoft Indonesia mengenalkan program belajar Data Science menggandeng PHI-Integration platform DQLab.id. Hal ini adalahwujud nyata Microsoft menolong bisnis untuk menambah performa, efektifitas, dan produktifitas untuk menjadi #datadriven.

Rangkaian “Data Science Enablement Program” dalam masa-masa 6 bulan dan dapat dibuntuti secara online dan offline dengan memakai metode belajar praktikal dan aplikatif.

Selama masa program, semua peserta bakal mempelajari pemakaian bahasa pemrograman R dan Python yang dikemas lewat project di dalam Azure Machine Learning Studio environment.

Dampak besar revolusi 4.0 pada industri

Era revolusi industri 4.0 yang menuju digitalisasi dan otomasi, menuntut pelaku industri guna cepat beradaptasi dengan perubahan. Mengutip analisa Mckinsey Global Institue, revolusi industri 4.0 ditebak akan memberikan akibat sangat besar dan luas, khususnya pada sektor industri.

Robot dan mesin akan tidak sedikit memproduksi data. Oleh karenanya, bagaimana teknik kita merespon dan meneliti data itu akan memprovokasi perkembangan usaha.

Feris Thia, Content Principal DQLab.id sekaligus pendiri PHI-Integration, melafalkan saat ini masih tidak sedikit pihak belum mengetahui proses pengolahan dan analisa data dengan tepat.

Bahasa “Coding R” tidak sedikit digunakan

“Tentu ada tidak sedikit cara menguji validitas data. Salah satu teknik paling efektif ialah dengan memakai R, dimana R ialah bahasa coding serupa statistik yang dapat dipakai intensif di Azure Machine Learning Studio”, jelas Feris dalam sesi onboarding Data Science Enablement Program di kantor Microsoft Indonesia (5/92018).

Ia menambahkan, R pun dapat menolong menyimpulkan data dan dapat menyaksikan langsung hasil output-nya tambah Feris. Mirisnya, di Indonesia sendiri akses guna mempelajari R masih paling terbatas.

“Banyak yang bertanya, saya mesti belajar R dimana? Kok berbahasa Inggris semua? Ada nggak berbahasa Indonesia supaya lebih gampang dipahami? Ada tidak yang serupa case di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan seperti tersebut sering saya temui di kalangan pelaku industri,” ungkap Feris.

Baru 7% organisasi miliki strategi digital

Tantangan berikut yang lantas memicu Microsoft Indonesia menggandeng PHI-Integration lewat pelajaran.id/ DQLab.id mengenalkan inisiatif Data Science Enablement Program. Program ini bertujuan menolong mengoptimalkan proses pembelajaran, pengolahan dan analisis data melewati studi permasalahan riil supaya dapat diimplementasikan secara langsung semua pelaku industri.

“Kami menyadari sampai saat ini masih tidak sedikit pihak yang belum mengetahui proses pengolahan dan analisis data dengan tepat. Berdasarkan keterangan dari hasil riset Microsoft dan IDC mula tahun ini, dari 79% organisasi di Indonesia yang tengah merasakan proses transformasi digital, melulu 7% mempunyai strategi transformasi digital secara menyeluruh,” ungkap Yos Vincenzo, Cloud and Enterprise Business Group Lead Microsoft Indonesia.

Yos menambahkan, Microsoft bareng PHI-Integration menghadirkan Data Science Enablement Progam supaya para pelaku Teknologi Informatika (TI) bisa lebih mengetahui pembagian segmen pelanggan, menganalisis sekian banyak  data, sampai mengolahnya menjadi model bisnis yang bisa menghasilkan pandangan baru untuk usaha.

Profesional TI sebagai transformator digital Indonesia

Pelatihan secara online maupun offline ini diinginkan dapat menambah performa, efektivitas dan produktivitas bisnis organisasi yang didorong data dan AI. AI akan menolong menciptakan penyelesaian inklusif untuk mengolah data yang tidak sedikit menjadi analisis yang lebih baik dan mengotomatisasi kegiatan sehingga lebih efektif dan efisien.

Pemahaman bakal ilmu ini dipercayai dapat mendorong lebih tidak sedikit lagi organisasi di Indonesia guna mempunyai strategi digital dan semua pelaku TI dipercayai menjadi hal utama menyukseskan transformasi digital Indonesia.

“Pendekatan DQLab ialah dataset real, dan terdapat code yang dapat langsung diperiksa secara realtime,” ungkap Feris. “Tujuan akhir dari pembelajaran program Data Science Enablement ini supaya pelaku industri dapat memahami customer segment, menganalisa sekian banyak  dataset, dan menciptakan model sampai-sampai dapat menghasilkan insight untuk bisnis”, tutup Feris.

Melalui inisiatif ini, Microsoft Indonesia dan DQLab.id bercita-cita dapat menjangkau misi membuat #datadriven business lewat pemanfaatan data secara optimal.

Metode Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam

Metode Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam

Metode Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam
Metode Pembelajaran dalam Pendidikan Agama Islam
Untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif, diperlukan adanya pendekatan atau metode. Pertama ekspositori, metode mengajar yang biasa digunakan dalam pengajaran ekspositori adalah metode ceramah dan demonstrasi. Kedua, pembelajaran dengan mengaktifkan siswa. Dalam metode ini siswa lebih banyak aktif, namun tidak berarti guru tinggal diam. Guru memberikan petunjuk, mengarahkan anak didik tentang apa yang harus dilakukan. Metode yang banyak digunakan dalam pembelajaran siswa aktif sebagai berikut:
a.  Tanya jawab
b.  Diskusi
c.  Pengamatan dan percobaan
d.  Pemecahan masalah
e.  Pemberian tugas.
Dalam perspektif Islam, ada beberapa metode yang dapat dikembangkan selain yang telah disebutkan di atas, yaitu:

1. Metode Dialog Qur’āni dan Nabawi

Metode dialog qur’āni dan nabawi adalah metode pendidikan dengan cara berdiskusi sebagaimana yang digunakan oleh Alquran dan atau hadis-hadis nabi. Metode ini, disebut pula metode khiwār yang meliputi dialog khitābi dan ta’abbudi (bertanya dan lalu menjawab); dialog deksriftif dan dialog naratif (menggambarkan dan lalu mencermati); dialog argumentatif (berdiskusi lalu mengemukakan alasan kuat); dan dialog Nabawi (menanamkan rasa percaya diri, lalu beriman). Untuk yang terakhir ini, (dialog Nabawi) sering dipraktekkan oleh sahabat ketika mereka bertanya sesuatu kepada Nabi saw.
Dialog qur’āni-nabawi merupakan jembatan yang dapat menghubungkan pemikiran seseorang dengan orang lain sehingga mempunyai dampak terhadap jiwa peserta didik. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni;
a. permasalahan yang disajikan secara dinamis
b. peserta dialog tertarik untuk terus mengikuti jalannya percakapan itu
c. dapat membangkitkan perasaan dan menimbulkan kesan dalam jiwa
d. topik pembicaraan yang disajikan secara realistis dan manusiawi
Dapat dirumuskan bahwa dialog qur’āni-nabawi adalah metode pendidikan Islam yang efektif dalam upaya menanamkan iman pada diri seseorang, sehingga sikap dan perilakunya senantiasa terkontrol dengan baik.

2. Metode Kisah Qur’āni dan Nabawi

Metode kisah disebut pula metode “cerita” yakni cara mendidik dengan mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan menyampaikan pesan dari sumber pokok sejarah Islam, yakni al-Qur’an dan Hadis.
Salah satu metode yang digunakan al-Qur’an untuk mengarahkan manusia ke arah yang dikehendakinya adalah dengan menggunakan cerita (kisah). Setiap kisah menunjang materi yang disajikan, baik kisah tersebut benar-benar terjadi maupun kisah simbolik.

Dalam al-Qur’an dijumpai banyak kisah, terutama yang berkenaan dengan misi kerasulan dan umat masa lampau. Muhammad Qutb berpendapat bahwa kisah-kisah yang ada dalam al-Qur’an dikategorikan ke dalam tiga bagian; pertama, kisah yang menunjukkan tempat, tokoh dan gambaran peristiwa; kedua, kisah yang menunjukkan peristiwa dan keadaan tertentu tanpa menyebut nama dan tempat kejadian; ketiga, kisah dalam bentuk dialog yang terkadang tidak disebutkan pelakunya dan dimana tempat kejadiannya.
Pentingnya metode kisah diterapkan dalam dunia pendidi-kan karena dengan metode ini, akan memberikan kekuatan psikologis kepada peserta didik, dalam artian bahwa; dengan mengemukakan kisah-kisah nabi  kepada peserta didik, mereka secara psikologis terdorong untuk menjadikan nabi-nabi tersebut sebagai uswah (suri tauladan).

Kisah-kisah dalam al-Qur’an dan hadis secara umum bertujuan memberikan pengajaran terutama kepada orang-orang yang mau menggunakan akalnya. Relevansi antara cerita (kisah) qur’āni dengan metode penyampaian cerita dalam lingkungan pendidikan ini sangat erat. Metode ini merupakan suatu bentuk teknik pnyampaian informasi dan instruksi yang amat bernilai, dan seorang pendidik harus dapat memanfaatkan potensi kisah bagi pembentukan sikap yang merupakan bagian esensial pendidikan qur’āni dan nabawi.

Kewirausahaan Sejak Dini

Kewirausahaan Sejak Dini

Kewirausahaan Sejak Dini
Kewirausahaan Sejak Dini
Kajian menarik tentang kewirausahaan disampaikan tiga orang yang berkompeten, yaitu CEO PT Graha Layar Prima (pendiri Blitzmegaplex) Ananda Siregar, pakar kepribadian sekaligus Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa Mien Rachman Uno, dan Presiden Direktur Kiroyan Kuhon Partners/PT Komunikasi Kinerja, Noke Kiroyan.
Gambaran singkatnya, menanamkan jiwa kewirausahaan adalah dengan melakukan perubahan mental dan sikap yang dapat dilakukan sejak dini, tanpa mempertentangkan apakah kemampuan berwirausaha itu berkat bakat (terlahir) atau hasil pendidikan (terdidik). Selain itu, pendidikan dapat menjadi faktor pendorong kesuksesan berwirausaha atau sebaliknya.


Kewirausahaan Dibina sejak Dini Dibutuhkan Perubahan Mental Jakarta, Kompas – Jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship dapat dibina atau ditanamkan sejak kecil. Kewirausahaan lebih kepada menggerakkan perubahan mental. Tidak perlu dipertentangkan apakah kemampuan wirausaha itu berkat bakat (terlahir) atau hasil pendidikan (terdidik). Demikian antara lain terungkap dalam Parenting Seminar yang diselenggarakan Universitas Paramadina, Sabtu (1/3). Hadir sebagai pembicara, CEO PT Graha Layar Prima (pendiri Blitzmegaplex) Ananda Siregar, pakar kepribadian sekaligus Presiden Direktur Lembaga Pendidikan Duta Bangsa Mien Rachman Uno, dan Presiden Direktur Kiroyan Kuhon Partners/PT Komunikasi Kinerja, Noke Kiroyan.

Mien Uno mengatakan, untuk menjadi wirausahawan andal, dibutuhkan karakter seperti pengenalan terhadap diri sendiri (self awareness), kreatif, mampu berpikir kritis, mampu memecahkan permasalahan (problem solving), dapat berkomunikasi, mampu membawa diri di berbagai lingkungan, menghargai waktu (time orientation), empati, mau berbagi dengan orang lain, mampu mengatasi stres, dapat mengendalikan emosi, dan mampu membuat keputusan. Karakter-karakter tersebut dapat dibentuk melalui pendidikan sejak dini. ”Untuk mendidik anak menjadi seorang wirausahawan tidak dalam hitungan satu, dua, dan tiga, melainkan sebuah proses panjang. Dalam proses tersebut, orangtua perlu mengambil peranan,” ujarnya. Orangtua perlu menyupervisi anak dengan memberikan contoh yang baik dan menjaga agar ucapan sama dengan tindakan. Selain itu, orangtua ikut memotivasi anak, mengevaluasi mereka, dan memberikan apresiasi atas kerja keras anak. Selama proses tersebut, orangtua dapat mengamati kecenderungan sang anak.

Perubahan mentalHal senada diungkapkan Noke Kiroyan. Bagi Noke, kewirausahaan lebih soal menggerakkan perubahan mental. Dia sendiri berpendapat tidak perlu dipertentangkan kewirausahaan itu sesuatu yang dapat dipelajari atau didapatkan sebagai bakat secara genetis. Pada dasarnya, apa yang disebut ”bakat” sebetulnya dapat saja merupakan pengaruh lingkungan dan hasil pendidikan. Pendidikan, bagi sebagian orang, bisa menjadi faktor pendorong kesuksesan berwirausaha atau sebaliknya.
”Seseorang tidak perlu predikat sarjana untuk menjadi pengusaha, tetapi dengan latar belakang pendidikan akademik, saya menduga banyak peluang akan terbuka karena lebih luas wawasannya dalam melihat peluang,” ujarnya. Sebaliknya, kata Noke, dengan pendidikan tinggi, seseorang dapat saja malah enggan mengambil risiko. Dalam pendidikan bisnis, misalnya, individu justru belajar menghindari risiko. Padahal, kewirausahaan itu sangat identik dengan mengambil risiko, menciptakan hal-hal baru, baik berupa produk, proses, atau cara pandang baru, serta melihat peluang yang belum dilihat orang lain.

Negara berkembang justru potensial sebagai tempat mengembangkan kreativitas dan usaha-usaha baru. Terlebih lagi, Indonesia sangat kaya akan potensi sumber daya, baik alam, budaya, maupun manusia. Pengusaha muda Ananda Siregar meyakini, kewirausahaan diawali dengan sikap (attitude). Individu harus memiliki keyakinan bahwa tak ada yang mustahil.
”Yang dibutuhkan ialah sikap can do. Menjadi wirausahawan lebih merupakan cara pandang, pikir, dan sikap bahwa semua hal dapat dipelajari. Kewirausahaan tidak sekadar keterampilan teknis,” ujarnya. Semasa Ananda kecil, sang ayah suka bercerita tentang kesuksesan dan keberanian para pengusaha membangun bisnisnya.

Guru TK Terbitkan Buku Pengalaman Menulis Keluarga

Guru TK Terbitkan Buku Pengalaman Menulis Keluarga

Guru TK Terbitkan Buku Pengalaman Menulis Keluarga

Mempunyai tiga anak yang bahagia menulis dan udah menerbitkan buku pasti jadi pengalaman tersendiri. Bagaimana ikhtiarnya sebabkan sebuah tulisan sampai sukses dimuat fasilitas massa mengerti memyimpan kisah yang menarik. Pengalaman itu dirangkum dengan model bhs simple oleh kedua orangtuanya dan dijadikan jadi sebuah buku.

Guru TK Terbitkan Buku Pengalaman Menulis Keluarga

Jamilatun Heni Marfu’ah, guru TK IT Nurul Fikri Sidoarjo dan suaminya, Joko Susanto, gigih untuk mengenalkan dunia baca tulis kepada putra-putrinya. Baginya, mengenalkan aktifitas membaca dan menulis adalah salahsatu tugas mulia bagi tiap tiap orangtua. Pengalamannya bertahun-tahun kompak berlatih menulis dengan anak ditulisnya didalam sebuah buku. Belum lama ini, buku berjudul Kisah Inspiratif Keluarga Penulis itu udah terbit.

Buku bersampul merah itu lebih dari satu besar berisi pengalaman langsung atau kisah nyata kedua penulis dan keluarganya didalam mengupayakan jadi penulis. “Isinya tidak cuma kabar gembira kita didalam menulis tapi juga pengalaman kegagalan. Pernah satu hari, kita dan anak kompak mendapat surat penolakan dari penerbit,” mengerti Joko.

“Namun, kita menegaskan pada anak kita bahwa kecuali penolakan ini sebabkan kita putus asa dan menyerah, maka nggak usah mimpi jadi penulis lagi,” tambahnya mengenang. “Alhamdulillah, anak-anak konsisten dan konsisten berlatih menulis walaupun dengan gayanya masing-masing,” mengerti Jamilatun H.Marfu’ah yang juga Kepala TK IT Nurul Fikri Sukodono Sidoarjo.

Menurut pemahaman keluarga ini, barang siapa dapat jadi penulis. “Menurut para penulis senior, sesungguhnya menulis merupakan sebuah keterampilan. Kapan saja, di mana saja, dan siapa saja dapat melakukannya walaupun tidak punyai latar belakang khusus pengetahuan kepenulisan,” terang Joko. “Maka kita inginkan mencobanya.”

Alasan menulis bagi Joko dan Heni adalah untuk memotivasi anak-anaknya agar dapat menuangkan gagasan didalam wujud tulisan. Setelah anak-anaknya pulang dari suatu kesibukan menarik umpama outbond di luar kota, kebanyakan orangtua mendengarkan cerita pengalaman dengan seksama. “Kadangkala kita berpesan, kapan-kapan ditulis ya, soalnya bagus sekali ceritanya, sayang kecuali hilang begitu saja,” ujar Heni berbagi kiatnya.

Embrio buku ini berawal dari permintaan lebih dari satu kawan untuk membagi cerita atau pengalaman kepenulisan keluarga kami. Meskipun tidak banyak. Utamanya kisah nyata berkenaan anaknya didalam belajar menulis. Ada juga berkenaan ikhtiar mereka yang mengirim tulisan sampai dimuat di fasilitas massa. Banyaknya pertanyaan yang sering terulang pada lebih dari satu kesempatan memotivasinya untuk menjawabnya melalui sebuah buku. Agar dapat lebih luas.

Untuk Mengasah Keterampilan

Terbitnya buku berjudul Kisah Inspiratif Keluarga Penulis itu dikehendaki ikut menebarkan virus menulis. Salahsatu wujud kepedulian adalah penyadaran melalui tulisan. Pada tahap inilah tanggung jawab seorang penulis dipertanyakan. Keseharian kehidupan manusia diselingi dengan beraneka persoalan. Apapun bentuknya. Detik demi detik, beraneka kasus nyaris senantiasa berganti. Mulai dari urusan pribadi, keluarga sampai negara. Bahkan tidak jarang beraneka kasus seakan jadi berlarut-larut.

Buku ini diawali kisah berjudul Sabtu Pagi di Kantor Pos. Dituliskan bahwa belasan orang tampak antri di kantor pos kecamatan. Mereka berkunjung kepagian walaupun loket pos baru diakses pukul setengah delapan. Menilik kartu atau lembaran kertas yang mereka pegang menandakan lebih dari satu besar bakal membayar beraneka angsuran. Mulai biaya listrik, air minum, pajak, kredit sepeda motor, barang elektronik atau beraneka cicilan yang wajib dibayar bulanan. Hari itu anaknya yang masih kelas II SD berkenan menyita wesel atas honor menulisnya.

https://www.ruangguru.co.id/ “Buku ini kita tulis dengan bhs dan ulasan yang sederhana, ringan. agar ringan dipahami. Buku ini dimaksudkan untuk membantu para orangtua dan guru agar bersama-sama meyakini bahwa menulis itu dapat konsisten dipelajari,” pungkas Joko.

“Kami belumlah apa-apa, tapi semoga yang simple ini khususnya memotivasi kita untuk lebih berkarya lagi,” ingin Heni yang merupakan alumnus Universitas Brawijaya Malang ini.

Jadi guru hebat, siapa takut?

Jadi guru hebat, siapa takut

Jadi guru hebat, siapa takut?

Di era globalisasi ini, guru jadi tumpuan untuk menyiapkan anak bangsa supaya sanggup beradu di dunia luar. Guru sebagai garda terdepan di dalam menyiapkan anak bangsa mesti mulai membuat perubahan paradigmanya. Lebih berfikir kritis, terbuka, dan tetap berkembang untuk jadi guru yang “hebat”.

Jadi guru hebat, siapa takut

Di era kini, guru yang “apa adanya” tidak ulang sanggup membanggakan diri, gara-gara guru “hebat”-lah yang sanggup diandalkan untuk memenuhi tuntutan zaman yang mengharuskan peningkatan di dalam mutu pendidikan.

Menurut Dr. Amirulloh Syarbini, M.Ag. di dalam bukunya, guru “hebat” adalah guru yang profesional di bidangnya. Untuk jadi guru hebat, seorang guru mesti membekali dirinya bersama dengan beragam kecakapan khusus yang biasa dikenal bersama dengan istilah kompetensi. Dengan miliki beragam kompetensi itulah nantinya diharapkan guru sanggup bertindak secara profesional di dalam lakukan pekerjaannya.

Bagaimana langkah supaya sanggup jadi guru “hebat”? Buku karya dosen Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ini, menjawab pertanyaan para guru bersama dengan menyajikan trik-trik rahasia yang sanggup dijadikan anjuran di dalam rangka membekali diri untuk jadi guru “hebat”.

Buku ini dibagi jadi tujuh bab. Pada bab pertama, penulis menguraikan perihal kompetensi yang mesti dikuasai guru. Selain menguasai 4 kompetensi yang sudah dikenal, yakni kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial, tak kalah pentingnya guru pun diharuskan menguasai keahlian bicara dan menulis.

Keahlian bicara yang dimaksud adalah keahlian sebagai pembicara publik (public speaker), tetapi keahlian menulis yang diuraikan di dalam buku ini adalah perihal menulis buku dan artikel di fasilitas massa. Kebanyakan guru mengupayakan menghindari ke dua keahlian tersebut, gara-gara dianggap sukar untuk dilakukan.

Oleh gara-gara itulah terhadap Bab 2, penulis menuturkan rahasia untuk jadi ahli public speaking yang diuraikan secara mendetail berasal dari pengertian, unsur-unsur, hingga dahsyatnya kemampuan public speaking serta urgensi public speaking untuk guru. Dilanjut terhadap Bab 3 yang mengupas perihal inti berasal dari public speaking, yakni teknik-teknik dahsyat supaya jago di dalam public speaking. Dilengkapi terhadap Bab 4 bersama dengan kiat-kiat rahasia untuk menangani kegelisahan bicara di depan umum.

Bab paling akhir yang mengupas public speaking adalah Bab 5 yang memberikan gambaran perihal 15 butir terlarang bagi pembicara publik. Hal-hal yang disampaikan di sini beberapa merupakan penegasan berasal dari yang sudah dikemukakan terhadap bab-bab sebelumnya.

Bab 6 dan 7 mengungkap rahasia guru hebat berikutnya, yakni perihal menulis buku dan artikel di fasilitas massa. Walaupun tak serinci pembahasan perihal public speaking, namun penjelasan perihal menulis buku dan artikel ini, serasa cukup bagi pembaca untuk menaikkan wawasan perihal budaya menulis yang sebenarnya masih benar-benar tidak cukup di Indonesia.

Disajikan pula kiat-kiat berhasil menulis buku best seller (halaman 157 – 166). Menulis buku best seller merupakan dambaan dan kebanggaan bagi setiap penulis. Yang paling akhir penulis mengupas perihal penulisan artikel yang merupakan salah satu bentuk karya tulis ilmiah sebagai bentuk pengembangan profesi guru.

Kedua pembahasan perihal keterampilan menulis tersebut membuka mata hati guru, perihal betapa besarnya kegunaan menulis. Guru adalah ilmuwan, dan itu mesti dibuktikan bersama dengan membuahkan karya tulis. Guru yang menulis bakal berbeda bersama dengan guru yang tidak menulis.

Buku ini ditulis bersama dengan type bahasa yang komunikatif supaya ringan dipahami oleh pembaca. Sangat menginspirasi dan penuh motivasi. Trik-trik yang disajikan dikaitkan bersama dengan contoh-contoh yang kerap berjalan di dalam kehidupan sehari-hari, berdasarkan pengalaman penulis yang termasuk dikenal sebagai writer, trainer, dan speaker (WTS). Disertai cuplikan-cuplikan mengagumkan berasal dari pengalaman para tokoh yang sudah berhasil di bidangnya.

Setelah membaca buku ini, sanggup dipastikan pandangan pembaca (khususnya guru) bakal mengalami perubahan. Kedua keahlian ini bukanlah suatu hal yang mesti dihindari atau dianggap sulit, melainkan suatu hal yang patut dipelajari secara serius, dan mesti dilatih secara step demi step bersama dengan kesungguhan hati.

Walaupun lebih bertujuan sebagai anjuran untuk guru, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang berniat untuk mendalami public speaking atau idamkan studi menulis buku dan artikel. Selamat membaca.

Konsep Profesi Guru

Konsep Profesi Guru

 

Menurut Dedi Supriyadi (1999) menyatakan bahwa guru sebagai suatu profesi di Indonedia baru dalam taraf sedang tumbuh (emerging profession) yang tingkat kematangannya belum sampai pada yang telah dicapai oleh profesi-profesi lainnya, sehingga guru dikatakan sebagai profesi yang setengah-setengah atau semi profesional.

Konsep Profesi Guru
Konsep Profesi Guru

Pekerjaan profesional berbeda dengan pekerja non profesional karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khususnya dipersiapkan untuk itu.

Pengembangan profesional guru harus diakui sebagai suatu hal yang sangat fundamental dan penting guna meningkatkan mutu pendidikan. Perkembangan profesional adalah proses dimana guru dan kepala sekolah belajar, meningkatkan dan menggunakan pengetahuan, keterampilan dan nilai secara tepat.

Profesi guru memiliki tugas melayani masyarakat dalam bidang pendidikan. Tuntutan profesi ini memberikan layanan yang optimal dalam bidang pendidikan kepada msyarakat. Secara khusus guru di tuntut untuk memberikan layanan professional kepada peserta didik agar tujuan pembelajaran tercapai. Sehingga guru yang dikatakan profesional adalah orang yang memeiliki kemamapuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Ornstein dsn Levine, 1984 (dalam Soetjipto dan Raflis Kosasi, 1999) menyatakan bahwa profesi itu adalah jabatan yang sesuai dengan pengertian profesi di bawah ini sebagai berikut :

  1. Melayani masyarakat, merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat ( tidak berganti-ganti pekerjaan )
  2. Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu diluar jangkauan khalayak ramai ( tidak setiap orang dapat melakukan )
  3. Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktek ( teori baru di kembangkan dari hasil penelitian )
  4. Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang
  5. Terkendali berdasarkan lisensi buku dan atau mempunyai persyaratan masuk ( untuk menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau ada persyaratan khusus yang ditentukan untuk dapat mendudukinya ).
  6. Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu (tidak diatur oleh orang lain)
  7. Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diabil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubung dengan layanan yang diberikan ( langsung bertanggung jawab terhadap apa yang diputuskan, tidak dipindahkan ke atasan atau instansi yang lain lebih tinggi ). Mempunyai sekumpulan unjuk kerja yang baku.
  8. Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien dengan penekanan terhadap layanan yang akan diberikan.
  9. Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya relatif bebas dari supervisi dalam jabatan ( misalnya dokter memakai tenaga adminstrasi untuk mendata klien, sementara tidak ada supervisi dari luar terhadap pekerjaan dokter sendiri )
  10. Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri.
  11. Mempunyai asosiasi profesi atau kelompok ‘elit’ untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan anggotanya ( keberhasilan tugas dokter dievaluasi dan dihargai oleh organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bukan oleh Departemen Kesehatan).
  12. Mempunyai kode etik untuk mejelaskan hal-hal yang meragukan atau menyangsikan yang berubungan dengan layanan yang diberikan.
  13. Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggin dari publik dan kepercayaan diri sendiri anggotanya ( anggota masyarakat selalu meyakini dokter lebih tahu tentang penyakit pasien yang dilayaninya).
  14. Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi ( bila dibandingkan dengan jabatan lain ).

Tidak jauh berbeda dengan ciri-ciri di atas, Sanusi et al (1991), mengutarakan ciri-ciri umum suatu profesi itu sebagai berikut:

  1. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosisal yang menentukan (crusial).
  2. Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian tertentu.
  3. Keterampilan / keahlian yang dituntut jabatan itu dapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
  4. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas, sistimatik, eksplisit, yang bukan hanya sekedar pendapat khalayak umum.
  5. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat perguruan tinggi dengan waktu yang cukup lama.
  6. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional itu sendiri.
  7. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, anggota profesi itu berpegang teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi.
  8. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dan memberikan judgement terhadap permasalahan profesi yang di hadapinya.
  9. Dalam prakteknya melayani masyarakat, anggota profesi otonom dan bebas dari campur tanggan orang lain,
  10. Jabatan ini menpunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat,dan oleh karenanya memperoleh imbalan yang tinggi pula. (Soetjipto dan Raflis Kosasi, 1999).

Khusus untuk jabatan guru,sebenarnya juga sudah ada yang mencoba menyusun kriterianya. Misalnya Nasional Education Asociation ( NEA ) ( 1948 ) menyarankan kriteria berikut.

  1. Jabatan yang melibatkan kegiatan itelektual.
  2. Jabatan yang menggeluti suetu batang tubuh ilmu yang khusus.
  3. Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama ( bandingakan dengan pekerjaan yang memerlukan latihan umum belaka ).
  4. Jabatan yang memerlukan “latihan dalam jabatan “ yang bersinambungan.
  5. Jabatan yang menjanjikan karir hidup dan keanggotaan yang permanen.
  6. Jabatan yang menentukan baku ( standarnya ) sedndiri.
  7. Jabatan yang mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi.
  8. Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

Untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik agar dapat meningkatkan mutu pendidikan maka guru harus memiliki kompetensi yang harus dikuasai sebagai suatu jabatan profesional. Kompetensi guru tersebut meliputi :

  1. Menguasai bahan ajar.
  2. Menguasai landasan-landasan kependidikan.
  3. Mampu mengelola program belajar mengajar.
  4. Mampu mengelola kelas.
  5. Mampu menggunakan media/sumber belajar.
  6. Mampu menilaik prestasi peserta didik untuk kepentingan pengajaran.
  7. Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan.
  8. Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah.
  9. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengejaran.

Referensi :  www.kuliahbahasainggris.com

Trik Jitu Mendidik Anak Agar Kreatif dan Cerdas

Bunda, kira-kira diantara Anda semuanya siapa sih yang tidak menginginkan mempunyai seoranga kan yang kreatif dan cerdas? Bisa dipastikan ya bund, jika tak ada satu pun orangtua yang tak menginginkan hal tersebut.

Trik Jitu Mendidik Anak Agar Kreatif dan Cerdas
Trik Jitu Mendidik Anak Agar Kreatif dan Cerdas

Ya, benar sekali pastinya semua orangtua, terutama bunda sangat inginkan supaya buah hatinya kelak tumbuh dengan kreatif dan juga cerdas. Akan tetapi kebanyakan orangtua tak cukup pandai tentang bagaimana cara atau pun trik mendidik anak supaya jadi lebih kreatif dan juga cerdas. Oleh sebab itulah, pada kesempatan yang baik kali ini kami akan membagikan kepada Anda semuanya tentang trik paling jitu mendidik anak agar kreatif dan cerdas. Simak informasi selengkapnya di bawah ini ya bund.

Trik jitu mendidik anak agar kreatif dan cerdas

Jangan pernah batasi ruang gerak sih kecil

Ingat ya bund, Anda tak boleh membatasi ruang gerak sih kecil, sebab ini merupakan salah satu cara yang harus dilakukan oleh orangtua. Membatasi ruang gerak anak nantinya akan membuat anak tumbuh jadi seeorang yang penakut. Jadi, Ada hanya cukup mengawasi anak Anda saja.

Berikan nasehati anak Anda dengan kasih sayang

Jangan pernah menasehati anak Anda dengan kekerasan, akan tetapi cobalah dengan sangat lembut dan juga kasih sayang. Menasehati anak Anda dengan kekerasan ini hanya akan menjadikan anak Anda jadi sosok melawan dan juga pendiam sehingga kreatifitasnya yang akan berkurang.

Sesekali ajak anak Anda berlibur

Anak merupakan orang yang mudah sekali bosan untuk belajar. Jadi, imbangkanlah pelajaran yang dia dapati dengan berlibur agar otak sih kecil kembali fresh. Ada banyak tempat yang bisa Anda kunjungi bersama dengan anak, contohnya saja dengan mengikuti kegiatan atau pun aktifitas outbond, kerajinan tangan, dan juga tempat-tempat yang lainnya mampu meningkatkan daya kreatif sih anak.

Memberikan arahan secara logis

Arahkan atau pun ajari anak Anda dengan beberapa hal yang positif serta logis, sehingga mereka akan lebih mudah dalam memahami dan juga mengerti. Apalagi anak yang masih dalam tahapan pertumbuhan, maka Anda juga harus disiapkan dengan banyak macam jawaban dari pertanyaan sih anak.

Sabar

Anda juga harus sabar dan juga tekun dalam mengajari anak, supaya mereka tumbuh jadi pribadi kreatif dan juga cerdas. Anda juga tak boleh mudah bosan di dalam mengajari anak, menasehati, meluruskan, dan juga mengingatkan setiap kesalahan yang dilakukan oleh anak.

Mengajari permainan kreatif

Bila Anda ingin anak yang kreatif dan juga cerdas, maka coba untuk mengajari permainan kreatif pada anak. Permainannya adalah jenis permainan yang bisa asah otak anak.

Demikianlah trik jitu mendidik anak agar kreatif dan cerdas yang bisa kami informasikan. Semoga saja bisa bermanfaat. referensi  https://www.sekolahbahasainggris.com/